Ketika saya membuka e-mail beberapa hari yang lalu, saya menemukan surat elektronik dari salah seorang peserta SPP (Sekolah Penulis Pembelajar). Beliau mengenal saya dari cerita para guru SPP tentang saya (Wow…saya merasa tersanjung). Beliau bertanya: ”Apakah anda tidak pernah merasa bosan atau malas? Dan, bagaimana mengatasi ‘penyakit’ tersebut?” (Siapa bilang? He he he).
Saya rasa setiap orang pasti pernah, sering, selalu, kadang-kadang (kadarnya tergantung masing-masing orang) merasakan malas atau bosan. Tidak hanya itu. Perasaan-perasaan negatif seperti rasa takut, sedih, cemas, kurang konsentrasi, uring-uringan dan lain-lain, adalah perasaan yang manusiawi. Hanya saja, bisakah kita mengontrolnya? Atau bahkan bisa membalikkan 180 derajat perasaan tersebut menjadi perasaan yang positif? Jawabannya: “Bisa!”
Menurut dunia kedokteran saraf nih, “perasaan” bisa memicu munculnya zat-zat biokimiawi tertentu. Seperti perasaan cemas dan takut yang memicu munculnya adrenalin, yang akan menyebabkan jantung berdebar-debar dan berkeringat dingin. Demikian juga dengan perasaan malas, bosan, sulit berkonsentrasi dan kehilangan mood akan menurunkan kadar serotonin. Jika perasaan negatif ini dipelihara, maka zat-zat biokimiawi tersebut akan sangat mendukung kegiatan yang merugikan ini. Tak heran, semakin kita membiarkan perasaan malas dan bosan misalnya, maka semakin malas dan bosanlah kita. Sehingga seakan-akan ini adalah sebuah “penyakit” yang sulit disembuhkan.
So, bagaimana cara mengatasinya? Caranya adalah: “Berpura-puralah!”.Anda tidak sedang mendengarkan sesuatu yang menyesatkan. Karena, pendapat saya sudah berlisensi dan telah diuji secara klinis…he he he… Tak selamanya kepura-puraan itu negatif. Asalkan jangan pura-pura “kaya” (padahal miskin demi gengsi yang nantinya akan menjadi bumerang), pura-pura tidak tahu rakyatnya menderita gizi buruk sementara pembangunan kantor bupatinya menghabiskan dana miliaran rupiah, pura-pura tidak mendengar keluhan para TKW di luar negeri, pura-pura lupa minum obat. Wah, kok ngelantur? Sampai di mana tadi? (He he he…saya sendiri berpura-pura).
Kepura-puraan yang dianjurkan di sini adalah pura-pura berani kalau kita takut. Seperti yang saya lakukan, ketika pertama kali berbicara di depan umum. Saya berpura-pura berani. (padahal nggak pede …cing!). Nggak nyangka, saya akhirnya berani beneran dan pede abis. Ini berarti, jika perasaan kita berani-beranikan, maka adrenalin terkendali, sehingga tidak sempat menyebabkan efek beruntun ke seluruh organ-organ tubuh. Coba bayangkan, jika pas saya ke depan saya membiarkan perasaan takut, begitu adrenalin terlepas maka jantung akan berdebar-debar, berkeringat dingin, gugup, gemetar, kata-kata yang sudah disiapkan pun menjadi tak karuan. Belum lagi efek selanjutnya yang oleh para pembicara manapun sangat tidak diharapkan seperti mendapat pandangan iba penuh belas kasihan dan di suruh turun oleh para peserta.





Don’t pay any attention to what they write about you. Just measure it in inches.AndyWarholAndy Warhol
Oleh: Barack Obama on Juli 26, 2008
at 10:36 pm
…when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth.SirArthurConanDoyleSir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes
Oleh: SPP on Juli 27, 2008
at 9:47 am
Being alone is in the deepest sense the human condition. Loneliness is the disease of feeling isolated, cut off from human contact and human warmth. Some people battle all their lives against this poignant emotion, struggling constantly to come to terms with the immutable fact of their existence: that all human beings are separate, one from another, and will remain so all their lives; each sealed within a thin veneer of skin. If this struggle is successful, the individual ultimately transcends his physical limitations and becomes most himself precisely because he is closely bound to others.EricP.MosseEric P. Mosse, The Conquest of Loneliness
Oleh: Security And Prosperity Partnership on Juli 27, 2008
at 9:08 pm
thanks for your coment in my blog
Oleh: athik on Juli 28, 2008
at 2:49 pm